Dewan Bangsawan Britania Raya : “Lootbox Harus Diklasifikasikan Sebagai Judi”

Kontroversi mengenai lootbox yang telah di debatkan dalam beberapa tahun terakhir membuat pemerintah Inggris akhirnya turun tangan dan memberikan pendapatnya mengenai konsep yang sudah lama ditolak namun tidak ada tindakan nyata yang diambil. Pada tahun 2017 Komisi Perjudian Inggris menyatakan bahwa loot box tidak termasuk dalam bagian tindak perjudian karena item yang didapatkan dari loot box tidak dapat dikonversi menjadi uang asli.

Namun dengan semakin bertambahnya tokoh pemerintah termasuk kepala kesehatan mental NHS dan Departemen Digital, Budaya, Media dan Olahraga yang menyerukan tindakan tegas dan kini Komite Perjudian Dewan Bangsawan Britania Raya ikut terjun dalam mengurus kasus ini. Laporan terbaru dari Dewan Bangsawan menyarankan untuk mengklasifikasikan loot box sebagai ‘game kesempatan’, yang akan membuat kegiatan game ini bertabrakan langsung dengan Undang-Undang Perjudian tahun 2005.

‘Jika produk yang dihadirkan seperti perjudian dan terasa seperti perjudian, maka harus ditentukan sebagai praktik perjudian’ sebut laporan menurut BBC.

Wawancara pada BBC BReakfast, Lord Grade, ketua komite mengatakan bahwa sebagian besar rekomendasi laporan dapat diberlakukan segera, tanpa perlu peraturan baru. Laporan ini bukan tentang video game secara spesifik namun membahas tentang industri perjduian secara menyeluruh, dengan fokus pada wujud baru dari perjudian yang juga ditargetkan kepada anak-anak.

Riset akademik juga sudah membuktikan hubungan antara pengeluaran untuk membeli loot box dan juga masalah perjudian. Namun, laporan tersebut tidak serta-merta menyerukan untuk melarang adanya loot box seperti yang terjadi di Belgia dan Belanda dan sebagai gantinya menyarankan untuk membuat lootbox seperti FIFA Player Packs harus di deskripsikan secara gamblang sebagai ‘game kesempatan’.

Hal ini setidaknya mengharuskan game yang memiliki sistem lootbox termasuk game olahraga akan diklasifikasikan sebagai game yang hanya boleh dimainkan oleh anak berumur 18 tahun keatas.

 

Sumber : Metro

 

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More

%d blogger menyukai ini: